Skip to main content

Pembuka bulan, gizi untuk isi kepala





Review Buku
KELAKUAN ORANG KAYA
Yang ditulis oleh Puthut EA


"lha, memang Tuhan butuh ibadahmu? Kalau kamu merasa Tuhan tidak adil, ya lakukan saja keinginanmu untuk tidak beribadah. Lagipula kan Tuhan yang punya surga. Kenapa kamu yang harus atur Dia? Terserah Tuhan dong!"


Kutipan itulah yang mengena dan tertambat di kepala ku. Sehingga aku memutuskan mengorder buku ini ketika saban hari Modjok memposting mengenai kutipan buku ajaib ini dalam instagram. Membaca buku ini sembari merunut cerita yang sering kali ku alami.. Beberapa relevan. Betapa di dunia ini, kita sebagai manusia adakala nya merasa berhak menilai orang lain, berhak merasa lebih tinggi, lebih segalanya. Kesombongan datang dengan cara yang lembut ya Pak de, betul.. Tanpa menggurui tanpa diketahui, hanya tiba-tiba ada dan tertanam begitu saja. Tangan-kaki kita jadi beribadah dengan pamrih. 
Berkembang, menjadi mental pembully, tukang ikut campur urusan orang lain, dan ikut menyumbang protes disana-disini. (baktimu pada negara hanya berupa protes, cuk!)

Buku ini.. menggugahku Pak de 😢😢😤😣 menohok rasa sombong yang pernah secara tak sadar aku ucapkan pada orang. Aku pernah merasa kok, jujur saja. 
Adalah keputusan yang tepat, mengosongkan isi dompet untuk buku yang tulis oleh beliau. 

Banyak sekali cerita karya Puthut EA yang bisa diambil untuk jadi pembelajaran dan diresapi pakai hatimu. Berawal dari buku beliau berjudul "Sebuah Kitab yang Tak Suci" dan "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu", kemudian buku ini. 

Sangat butuh membaca dan memberi gizi untuk kepala serta hatiku. Apalagi di zaman sekarang, segala krisis merajalela. Entah karena kemiskinan atau karena moral. 

Selain kutipan diatas (lanjutannya), ada lagi sepenggal cerita yang kusukai. Ada yang horror dan hal yang tak lucu sih sebenarnya. Tapi—bisa jadi ceritanya mengantarkan tawa, tawa yang sinis tepatnya. Bukan karena lucu ya, hehehe.

Sedikit cuplikan dari lanjutan kutipan diatas :

Pada saat lebaran, yang diharapkan adalah saling memaafkan. Apalagi dalam keluarga. Tapi lebaran kali berbeda, debar keikhlasannya tak lagi terasa karena lebaran belum tentu saling memaafkan. 

Disebuah keluarga besar yang sedang berkumpul, seorang keponakan yang baru menyelesaikan gelar doktornya, bertanya pada pamannya, "menurut paman, apakah nanti kita semua akan masuk surga?"

Sang paman berusaha menjawab dengan hati-hati, " saya tidak tahu. Karena yang berhak atas surga itu Tuhan". 
"itusih saya juga tahu, tapi menurut pemikiran paman sendiri bagaimana?" desaknya.
"mmm.. Saya berprasangka baik pada Tuhan. Saya percaya Tuhan penuh welas asih.  Saya kira Tuhan akan memasukan kita semua ke dalam surga".
"loh ko bisa begitu? Jadi saya yang sudah salat subuh, menderita lapar dan haus ketika puasa, menyisihkan harta untuk zakat, masak disamakan dengan mereka semua yang tidak melakukan itu semua? Enak saja"
Sang paman yang sedang mengiris ketupat menghentikan tangannya. Lalu memandang kepada keponakannya.
"nak, kenapa bisa orang yang rajin beribadah seperti kamu, bisa punya rasa rela ada orang yang tersiksa di neraka?"
"Kan kita dikasih waktu dan kesempatan yang sama untuk beribadah. Saya sudah berusaha keras melakukannya, dan orang lain tidak. Kenapa bisa sama-sama masuk surga? Dimana letak keadilan Tuhan? Kalau begitu, saya tidak beribadah saja!"

"lha, memang Tuhan butuh ibadahmu? Kalau kamu merasa Tuhan tidak adil, ya lakukan saja keinginanmu untuk tidak beribadah. Lagipula kan Tuhan yang punya surga. Kenapa kamu yang harus atur Dia? Terserah Tuhan dong! Tuhan maha adil kan? 
Sebentar, Kamu kok ingin betul sih memasukan orang lain ke neraka?"

*********


Well..  Gimana, seru dan bikin gemes kan? Kira-kira lanjutan percakapan sang paman dan keponakan yang pintar itu bagaimana?  

Hal-hal yang ngotot seperti itulah yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Menurutku ini penting untuk aku pahami, supaya aku bisa lebih bijaksana dalam menunjukan identitas pilihan diri sendiri dan meredam perbedaan. Alangkah ucapan bisa menjadi percik yang membesar. Karena tak selalu dari lingkungan sosial yang praktikal kita mendapat pelajaran. Terkadang, sebelum bersosial, bagusnya kita berilmu dahulu kan? Supaya kita lebih sadar, mana yang lebih baik untuk dilakukan. 
Buku ini, pokoknya relevan. 

Nilai 5/5.
Buku kumcer karya Pak de, Puthut EA ini bagus sekali! Berbarengan diterbitkan dengan "Dunia Kali", tapi aku ga beli. Aku mau nya yang ini, kekeuh. Cocok juga untuk orang yang melebarkan cara pandangnya lagi, membesarkan rasa empati dan simpati, dan cocok juga untuk orang yang cepat lelah membaca. Karena cerita nya pendek-pendek kok. 


Kalau kata pak de, semoga kita bukanlah manusia yang sudah bodoh, sombong pula. Jadi jangan malas membaca ya!

Untuk selanjutnya, masih mencari Men Without Women nya Haruki Murakami!! 









Comments

Popular posts from this blog

Beribadah puisi, pantai, dan kopi part 1

Ternyata, manusia kebanyakan tidak menginginkan kejujuran. Sementara di jalanan, orang sudah ramai berdesakan. Kamu pula ikut meramaikan puisiku.  Yang ku tulis segenap hati berharap rindu bisa sedikit memberiku ruang untuk bernafas. Kenyataan dalam bentuk cobaan selalu jauh lebih konkret adanya. Sebelum kamu tahu, bahkan rindu ini sudah berakhir gugur oleh angin. Bagiku ini pertaruhan yang maha menguji. Memang, jika hidup adalah permainan, kamu adalah pemenangnya.  Kemudian aku akan tiba memberikanmu pelukan dan kecupan selamat kembali pulang. ******** Halo, teman-teman! Bagaimana kabar dan hari kalian? Semoga baik-baik saja ya. Semoga yang sedang sedih dan sakit, diberikan kesembuhan. Hati gak boleh dibiarkan terlalu sedih loh soalnya. Hehehe anyway.... Ibadah puisi sudah tuntas aku laksanakan, liburan yang ku proklamirkan sebagai self healing juga sudah terlaksanakan. Berkat banyak hal, aku bisa menikmati waktu liburku dengan benar-benar deh...
Jika keinginanmu sudah tidak sekuat itu lagi terhadapku, maka, selemah itu jugalah keinginanku terhadapmu. Denganku, cinta akan berjalan sesederhana rumus sebab akibat. Sebab keinginanku tidak akan pernah melampaui keinginanmu. Jika kamu ada, maka aku ada. Erat bagiku, untuk menjaga harapan-harapanku sendiri. Begitupun dengan ketiadaan. Karena aku takkan pernah sanggup menyelamatkan cinta sendirian saja.

Lukisan cat minyak pertamaku ❤

Terus terang, selama ini saya amat tidak menyukai cat minyak. Selain baunya terlalu tajam juga pengaplikasiannya butuh kesabaran yang luar biasa karna keringnya lama dan sulit untuk merapihkannya hehehe. Jadi untuk menyelesaikan beberapa bagiannya memakan waktu lama. secara keseluruhan saya mengerjakan perempuan dalam kanvas ini selama 4 hari. Menunggu bagian rambut kering, kemudian berpindah mengerjakan bagian wajah, lalu background untuk finishing. Tak ayal, baju dan segala yang ada di sekitar tempat melukis menjadi "korban". Tapi siapa sangka, ada kepuasan tersendiri ketika lukisan ku selesai. Meskipun ga sempurna dan jauh dari kata bagus, saya menyayangi nya. Saya menyayangi buah tangan diri sendiri dan bisa menghargai kecacatannya. Karena usaha yang tak mudah untuk bisa menjadikannya sebuah makna dalam gambar. Keruwetannya justry membuat hatiku lega, cara bekerjanya magic. Pikiran saya sedikit mengenang, jauh ketika saya sedang merasa terjebak jenuh oleh rutinita...