Skip to main content

Bab khusus kamu, tentang kamu, untuk kamu.

Ketika kita berbicara satu sama lain. Aku mencari sebuah tenang disana. Kulakukan itu tanpa kusadari, begitu saja. Barangkali memang kamu rumah untuk pulang ku suatu hari nanti. Sebentuk keinginan tersirat, padahal hal itu agaknya mustahil terlintas di benak ku—mengingat aku tak pernah berpikir perkara serius tentangmu sebelumnya. Benar, setiap perasaan dibutuhkan rasionalitas, aku meyakini itu. karenanya aku hanya bisa tertegun lama. Menimbang buruk dan enaknya jika membiarkan diriku sendiri jatuh cinta kepadamu. Bagaimanapun, aku memang sudah tak mau dikecewakan lagi. Meski degup-degup di malam panjang ini nyata adanya.

Jauh di sadarku, aku tahu, jatuh cinta adalah hal yang mengharukan dan menggugah. Jatuh cinta membuka kan pintu bahagia untuk segala urusan yang sepele. Dibalik itu semua, mana mungkin juga dilalui tanpa resiko. Jauh di sadarku, aku sudah mengetahui itu.




Tapi ngomong-ngomong, kamu tahu tidak, kalau pulang juga punya makna lain? 
Kadang, pulang itu mempunyai makna lain dari sebentuk persinggahan. Hakikatnya, berpasangan itu butuh kemauan bekerja sama dan berpetualang bersama. Maka, aku tidak mau menjadi sekadar tempat bagimu untuk pulang. Aku bertanya padamu, mampukah dirimu mengambil bagian dalam perjalananku? Maukah kamu mengajakku dalam rencana-rencana perjalananmu kelak?

"Semoga gunung-gunung dan pantai untuk kita kunjungi bersama, bahkan tempat seru lainnya, bukan sekadar menjadi wacana.
Ataupun ada Yang Maha Kuasa menyeriusi doa-doaku. Dan yang terpenting diatas itu semua, doa kamu. Untuk kamu.."

Comments

Popular posts from this blog

Beribadah puisi, pantai, dan kopi part 1

Ternyata, manusia kebanyakan tidak menginginkan kejujuran. Sementara di jalanan, orang sudah ramai berdesakan. Kamu pula ikut meramaikan puisiku.  Yang ku tulis segenap hati berharap rindu bisa sedikit memberiku ruang untuk bernafas. Kenyataan dalam bentuk cobaan selalu jauh lebih konkret adanya. Sebelum kamu tahu, bahkan rindu ini sudah berakhir gugur oleh angin. Bagiku ini pertaruhan yang maha menguji. Memang, jika hidup adalah permainan, kamu adalah pemenangnya.  Kemudian aku akan tiba memberikanmu pelukan dan kecupan selamat kembali pulang. ******** Halo, teman-teman! Bagaimana kabar dan hari kalian? Semoga baik-baik saja ya. Semoga yang sedang sedih dan sakit, diberikan kesembuhan. Hati gak boleh dibiarkan terlalu sedih loh soalnya. Hehehe anyway.... Ibadah puisi sudah tuntas aku laksanakan, liburan yang ku proklamirkan sebagai self healing juga sudah terlaksanakan. Berkat banyak hal, aku bisa menikmati waktu liburku dengan benar-benar deh...
Jika keinginanmu sudah tidak sekuat itu lagi terhadapku, maka, selemah itu jugalah keinginanku terhadapmu. Denganku, cinta akan berjalan sesederhana rumus sebab akibat. Sebab keinginanku tidak akan pernah melampaui keinginanmu. Jika kamu ada, maka aku ada. Erat bagiku, untuk menjaga harapan-harapanku sendiri. Begitupun dengan ketiadaan. Karena aku takkan pernah sanggup menyelamatkan cinta sendirian saja.

Lukisan cat minyak pertamaku ❤

Terus terang, selama ini saya amat tidak menyukai cat minyak. Selain baunya terlalu tajam juga pengaplikasiannya butuh kesabaran yang luar biasa karna keringnya lama dan sulit untuk merapihkannya hehehe. Jadi untuk menyelesaikan beberapa bagiannya memakan waktu lama. secara keseluruhan saya mengerjakan perempuan dalam kanvas ini selama 4 hari. Menunggu bagian rambut kering, kemudian berpindah mengerjakan bagian wajah, lalu background untuk finishing. Tak ayal, baju dan segala yang ada di sekitar tempat melukis menjadi "korban". Tapi siapa sangka, ada kepuasan tersendiri ketika lukisan ku selesai. Meskipun ga sempurna dan jauh dari kata bagus, saya menyayangi nya. Saya menyayangi buah tangan diri sendiri dan bisa menghargai kecacatannya. Karena usaha yang tak mudah untuk bisa menjadikannya sebuah makna dalam gambar. Keruwetannya justry membuat hatiku lega, cara bekerjanya magic. Pikiran saya sedikit mengenang, jauh ketika saya sedang merasa terjebak jenuh oleh rutinita...